Reuni SMA

Aula Baru SMUNSA 1 Sukoharjo,

Orang bilang masa-masa SMA itu masa paling indah, masa dimana kita mulai untuk mencari dan  mengenal jati diri, masa dimana paling bandel. Dan ga terasa, ternyata sudah sewindu saya melewatkan masa itu. Flash back dikit ke jama SMA dulu, dulu tuh aku masuk ke kelas I.1, II.1 dan IPA 3. Klo pas kelas I.1 dan II.1 itu adalah kelas yang terkenal paling bandel, bahkan sampai-sampai wali kelasnya aja nyerah. Dulu pernah tuh bolos bareng satu kelas, umpet-umpetan ama guru, terus sampai tarik-tarikan gerbang pintu sekolah ama Gatot (si Satpam) karena ga dibukain pintu gerbangnya biar bisa pulang hahaha. Pokoknya masa yang paling akan dirindukan oleh semua orang (klise banget ya hehe).

Dengan berbagai alasan tersebut, maka teman-teman SMA-ku yang kebetulan mencari nafkah di Jakarta berinisiatif untuk mengadakan reuni SMU Sukoharjo angkatan 2000. Ngumpulke balung pisah (ini bahasa Jawa-nya). Saya sendiri mengetahui keberadaan teman-teman SMU berawal dari dunia maya dengan iseng mencari di Friendster (dengan key: SMU Sukoharjo), kemudian lanjut chatting di YM dan milis Smunsaskh2000. Berawal dari sini lah, kami kemudian saling share keberadaan masing-masing, tukar informasi sekarang kerja dimana, perusahaan apa ? jadi apa ? dll.

Reuni SMUNSA Sukoharjo

Reuni SMUNSA Sukoharjo

Dan dari rencana tersebut, tepat tgl 4 Oktober 2008 akhirnya reuni pun menjadi kenyataan (alhamdulillah). Senang rasanya bisa berkumpul dengan teman-teman. Pas bertemu, ada yang makin gemuk (makin makmur nih kayaknya), sudah beristri/bersuami (ga tanggung-tanggung karena beberapa ternyata teman sekelas dulu akhirnya bisa jadi suami istri hahaha), bahkan ada yang membawa anaknya (aku kapan nyusul ya hehe).

Acara reuni diisi dengan sambutan dari Ketua Panitia, sambutan dari perwakilan guru, games, saling silaturahmi dan hiburan musik. Intinya acaranya sukses, walaupun panitianya dadakan dan asal tunjuk tapi alhamdulillah berjalan sesuai rencana.

Thanks ya, guys. Semoga reuni-reuni selanjutnya bisa terwujud dan yang pasti yang ikut harus lebih banyak. Amiiin

Note: pic from Restina

Marhaban ya Ramadhan

Mata kadang salah melihat,
Mulut kadang salah mengucap,
Hati kadang salah menduga,
Mohon maaf lahir & bathin atas segala khilaf baik yang disengaja maupun yang tidak

Marhaban Ya Ramadhan
Bulan dimana nafas kita menjadi tasbih, tidur kita menjadi ibadah, amal kita diterima dan do’a kita di ijabah,

Selamat menjalankan ibadah puasa,
Semoga kita bisa meraih kemenangan di bulan kemenangan ini .. Amiin

Matinya Musik Indonesia ?

Whuuuiih, ironis ya kalau membaca judul di atas ? hehe

Bukannya bermaksud menakuti-nakuti atau memanas-manasi suasana, tapi itulah yang terjadi pada permusikan Indonesia. Walaupun mendatangkan banyak keuntungan, tapi ternyata ada beberapa musisi (atau bisa dibilang band pendatang baru) yang boleh dibilang layu sebelum berkembang.

Yup, grup band yang saya maksud itu adalah Kertas Band. Miris rasanya hati ini, setelah membaca postingan di salah satu milis musik Indonesia beberapa waktu lalu mengenai tragedi yang menimpa grup band asal Palembang ini.

Kertas Band yang terkenal dengan hits-nya Kekasih Yang Tak Dianggap (KYTD), mungkin dari sebagian kita mungkin belum mengenalnya tapi di Palembang grup band ini sangat terkenal. Karena terkenalnya inilah, maka band yang digawangi oleh Rizal, Radha, Andit, Endra dan Argha ini akhirnya dilirik oleh salah satu label rekaman dan menjanjikan membuatkan album plus ini itu. Tapiiii ternyata yang terjadi adalah bukanlah pemenuhan janji yang didapat oleh Kertas Band akan tetapi sebaliknya. Mereka ditipu oleh label tersebut. Ironisnya lagi, sudah ditipu sekarang mereka malah dituntut balik.

Bermula karena terlena dengan rekaman album, maka Kertas Band tidak mempelajari kontrak dengan seksama termasuk royalti dan pembagian honor jadinya label itu bisa berkilah bahwa segala sesuatunya sudah diatur di kontrak yang sudah ditandatangani. Fiiiuuuh !!! Akhirnya Kertas Band pun mengganti namanya menjadi Armada Band. Tapi konon kabarnya, karena merasa stress salah satu personelnya memilih kembali ke Palembang. (ironis banget ya)

Mungkin ini bisa jadi awal dari kehancuran para musisi Indonesia (aduh, jangan sampai deh). Di saat musik Indonesia bisa menjadi ‘tuan rumah’ di negerinya sendiri, selalu aja dimanfaatkan. Hal ini bukan hanya terjadi pada musisi daerah yang akan terkenal, akan tetapi juga dengan musisi sudah malang melintang di kancah permusikan. Memang langkah yang sebaiknya kita ambil adalah lebih berhati-hati lagi jika ingin melakukan sesuatu. Label rekaman pun sebaiknya juga jangan terlalu ‘memeras’ para musisinya. Mematikan ideologi mereka demi sebuah trend dan juga angka penjualan album.

Pertama ‘menarik’ band yang sudah kelihatan tenar dan sudah punya fans, kemudian memanfaatkan mereka. Sempat berpikiran juga mungkin lebih baik mereka tetap berada di jalur indie daripada kalau masuk label rekaman seolah-olah dimatikan kreativitas mereka. Langkah ini juga akhirnya diambil oleh PAS Band dan Slank. Mereka memilih jalur indie, karena mungkin sudah ‘trauma’ dengan sebuah label rekaman.

Belum lagi masalah pembajakan yang semakin merajalela dan sulit untuk diberantas. Pemerintah pun terkesan adem ayem aja tuh melihat pembajakan dimana-mana.

Intinya, ayo kita semua saling bahu-membahu untuk tetap mempertahankan eksistensi Musik Indonesia di negeri kita tercinta !

« Older entries