“Wahai kawanku tercinta
Keringkan air matamu
Jangan kau tangisi lagi hidupmu
Karena hidupmu masih kan berarti
Kepalkan lagi tanganmu
Labuhkan perih hatimu
Kuatkan langkah kakimu kawanku
Untuk menapak hari depan nanti”
Itu adalah secuil bait dari lirik lagu Padi yang berjudul 26 Desember (lagu untuk korban Tsunami Aceh). Di saat rakyat Aceh mulai bangkit dan tersenyum (lagi) pasca kejadian tsunami 3 tahun silam (26 Desember 2004), di wilayah Indonesia bagian lainnya tertimpa bencana banjir pada hari yang sama. Ironis ya ?
Di penghujung tahun 2007 ini, seakan-akan ditutup oleh awan gelap. Kenapa ? Karena saat kita bersiap-siap untuk memasuki tahun 2008, justru terjadi bencana dimana-mana. Banjir dan tanah longsor melanda beberapa wilayah di Indonesia (Bengkulu, Padang, Solo, Madiun, Bali, NTB dll) dan korbannya pun boleh dibilang tidak sedikit terutama kejadian tanah longsor di Karanganyar (kabarnya sampai 60-an korban jiwa yang meninggal tertimbun longsoran). Ngilu rasanya begitu melihat berita tsb di televisi.
Sepintas terlintas tanya,
Mengapa bisa terjadi banjir & tanah longsor ?
Mengapa bencana tak hentinya melanda negeri ini ?
Apakah faktor dari manusia yang tidak mau ‘bersahabat’ lagi dengan alam dan cenderung untuk merusaknya ?
Mari kita bertanya pada pribadi masing-masing.
Apakah kita masih melakukan penebangan liar dan penggundulan liar ?
Apakah kita masih membuang sampah sembarangan ?
Apakah kita sampai saat ini masih melakukan hal-hal yang akan membuat alam kembali marah di kemudian hari ?
Bahkan kadang dalam kesendirian saya berdoa “Ya Allah, seandainya dengan kau timpakan berbagai musibah yang melanda negeri ini bisa membuat kami lebih sadar akan pentingnya menjaga alam dan bukan merusaknya, lebih sadar akan arti menghargai sesama, lebih membuka mata hati kami, maka ‘tegurlah’ kami dengan cara-Mu. Karena sesungguhnya Engkau tahu yang terbaik untuk kami. Amiin”
Untuk saudara-saudaraku yang kini tertimpa musibah, semoga mereka diberi ketabahan.
